Tampilkan postingan dengan label Ritz Carlton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ritz Carlton. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juli 2009

Kapolri: Pelaku Berinisial N

Kapolri: Pelaku Berinisial N
Pascaledakan di dekat Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, aparat keamanan disiagakan.
Jumat, 17 Juli 2009 | 19:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri memastikan salah satu pelaku bom bunuh diri berinisial N.

Berdasar nama yang tercantum dalam daftar masuk (check in) Hotel JW Marriott atas kamar 1808, polisi mendapatkan inisial salah satu pelaku bom bunuh diri.

"Begini saja, saya hanya memberikan inisialnya saja. Inisial N," ujar Hendarso Danuri, dalam konferensi persnya di halaman Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7).

Menurut dia, kamar 1808 itu dijadikan posko para pelaku bom bunuh diri ini. Berdasarkan data booking tersebut, N masuk pada Rabu (15/7) dan seharusnya keluar pada Jumat (17/7) ini.

Lalu, apakah mereka terkait dengan Jamaah Islamiah? Kapolri mengatakan, hal tersebut sedang dalam proses penyelidikan. "Jangan berandai-andai. Saya tidak mau berandai-andai," tuturnya.

Tim JK-Win: Data Intelijen Kok Disebarluaskan?

Tim JK-Win: Data Intelijen Kok Disebarluaskan?
Presiden SBY memberi keterangan Pers mengenai BOM marriott dan Ritz Carlton di kantor Presiden, Jakarta.

Sabtu, 18 Juli 2009 | 16:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Advokasi pasangan capres dan cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto mempertanyakan maksud Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang membeberkan sejumlah fakta dan bukti intelijen dalam pidato kenegaraannya kemarin, Jumat (17/7). Pidato yang disampaikan kepada masyarakat luas ini dimaksudkan sebagai respon Presiden terhadap peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton, Kuningan.

Menurut Koordinator tim advokasi JK-Wiranto, Chairuman Harajap, seharusnya fakta dan bukti intelijen itu tidak dilemparkan ke publik karena hanya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. "Kita prihatinkan ada info-info yang berupa data intelijen yang dilemparkan ke masyarakat. Kalau benar itu data intelijen, tentu digunakan untuk mengambil kebijakan," kata Chairuman dalam keterangan pers bersama Tim Kampanye Nasional pasangan capres Mega-Prabowo di Kantor DPP Golkar, Sabtu (18/7).

Lagipula, menurut Chairuman, data-data itu belum teruji kebenarannya dan seharusnya menjadi dokumen rahasia negara. Oleh karena itu, penyebaran fakta-fakta tersebut ditujukan untuk menyebar rasa takut di tengah masyarakat. "Kalaulah memang sudah ada bukti foto, video tentang seseorang yang memegang senjata api dan terlatih menembak, saya kira sudah cukup bukti utk mencari dan menangkapnya," lanjut Chairuman.

Sementara itu, anggota tim advokasi pasangan Mega-Prabowo, Elza Syarief mengatakan Presiden SBY terlalu cepat berkesimpulan. Pernyataannya bersifat prematur. "Polisi dan intelijen belum secara tuntas mencari tahu tapi Presiden sudah mendahului dengan kesimpulan. Buktinya apa?" tanya Elza.

Selang beberapa jam saja, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri maupun Menko Polhukam Widodo AS segera merilis informasi bahwa ledakan bom Kuningan terkait dengan teroris yang sedang buron Noerdin M Top. "Namun, itu pun masih perkiraan, belum masuk penyelidikan," tandas Elza.