Memang polisi belum memastikan bahwa Ibrahim menjadi korban tewas. Saat ini, polisi masih menunggu hasil tes DNA keluarga Ibrahim. Kemungkinan hasil tes DNA keluarga Ibrahim akan bisa diketahui dua atau tiga hari mendatang. seterusnya.....
Selasa, 21 Juli 2009
Ibrahim Diduga Pelaku Bom di Ritz-Carlton
Memang polisi belum memastikan bahwa Ibrahim menjadi korban tewas. Saat ini, polisi masih menunggu hasil tes DNA keluarga Ibrahim. Kemungkinan hasil tes DNA keluarga Ibrahim akan bisa diketahui dua atau tiga hari mendatang. seterusnya.....
Dana Bom Marriott dan Ritz Diindikasi dari Luar
Saat dikonfirmasi soal tren arus imigran tersebut, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Direktorat Imigrasi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Barimbing Maroloan mengakui adanya peningkatan. seterusnya.....
Skenario Teroris: Ledakkan 1808 Dulu, Baru JW Lounge
JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott pada hari Jumat (17/7) pagi diduga berencana meledakkan bom yang terdapat di Kamar 1808 terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengaktifkan bom yang dibawanya ke JW Lounge. Hal ini disampaikan oleh pakar terorisme, Wawan Purwanto, yang juga pendiri Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional, seterusnya........
Pengebom Hotel Marriott Lewati "Metal Detector" dengan Tenang
Barang-barang bawaannya pun diperiksa petugas keamanan, tetapi ia lolos tanpa dicurigai. Adapun seorang pengebom di Hotel Ritz-Carlton sempat salah menyebut nomor kamar saat ditegur petugas. Namun, ia nekat masuk ke restoran, kemudian memesan kopi sebelum meledakkan bom. seterusnya.....
Minggu, 19 Juli 2009
Nasir Tak Yakin Anaknya Pengebom Marriott
TEMANGGUNG, KOMPAS.com — Muhammad Nasir (60), ayah Nur Sahid, tersangka pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott di Jakarta, mengatakan, tidak yakin anaknya terlibat aksi terorisme tersebut. "Saya harap itu bukan anak saya, saya harapkan itu kabar keliru," katanya dalam bahasa Jawa dengan didampingi salah seorang di antara enam anaknya, Safrudin (31), di Temanggung, Minggu.
Ia mengatakan, Nur yang merupakan anak ketiga dari enam anaknya itu lahir pada 24 Juli 1974. Sejak tahun 2001, katanya, dia tidak pulang ke rumah bersama istri dan dua anaknya. Nur menikahi istrinya pada 1999. Setelah pernikahan itu, katanya, dia tinggal di rumah mertuanya di Klaten, Jateng. "Sebelum tahun 2001, sering pulang ke rumah, apalagi saat Lebaran, tetapi setelah itu kami tidak tahu," katanya. seterusnya
Bom Kuningan Identik dengan Bom Bali dan Cilacap
Minggu, 19 Juli 2009 | 13:33 WIB
Nanan menerangkan, kesamaan itu terihat dari bentuk rangkaian dan bahan baku yang dipergunakan oleh para pelaku. “Tapi jika bom yang terdahulu menggunakan gotri, bom yang meledak kali ini menggunakan mur dan baut,” ujarnya. Seterusnya
Sabtu, 18 Juli 2009
Pelaku Bom Ritz-Carlton Menyusup Lewat Lorong Marriott?
Dikatakan saksi tersebut, dirinya sempat melihat pria misterius tersebut keluar dari lorong tersebut beberapa saat setelah JW Marriott meledak. Bahkan, saksi yang enggan disebut namanya tersebut dapat menggambarkan ciri-ciri fisik pria misterius tersebut, seperti tinggi badan 170 meter dan potongan rambut disisir ke samping. seterusnya......
Pelaku Bom Pakai Modus Baru
Pola Teror Bom, Sasaran Berikutnya Militer
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerhati teror bom, Hermawan Sulistyo, menyebut bahwa militer dapat menjadi sasaran berikutnya dalam teror bom di Indonesia menyusul adanya ledakan bom di JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jumat (17/7) pagi. Hal ini terlihat berdasarkan pola teror bom yang terjadi di dunia. "Kalau bicara soal pola, bisa jadi akan masuk ke militer," kata lelaki yang akrab disapa Kiki ini, di sela-sela diskusi mingguan bertema 'Bom Lagi', di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (18/7). seterusnya..........
Bukti Intelijen Lemah
JAKARTA, KOMPAS.com — Peristiwa ledakan bom yang terjadi di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, membuktikan lemahnya kinerja aparat intelijen. "Mungkin, petugas intelijen kita sibuk mengurusi pemilu sehingga kinerjanya menjadi lemah," kata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsudin Haris, di Jakarta, Jumat (17/7).
Menurut Syamsudin, lemahnya kinerja aparat intelijen di Indonesia itu hampir menyeluruh, baik dari Badan Intelijen Negara (BIN), maupun Polri. Hal itu dapat terlihat dari belum mampunya petugas intelijen mendeteksi kemungkinan adanya tindakan terorisme, seperti yang terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton itu.
Mungkin, kata Syamsudin, aparat intelijen dikonsentrasikan sepenuhnya dalam mengamankan proses pemilu presiden sehingga pemantauan terhadap kemungkinan aksi terorisme menjadi lemah. Demikian juga dengan petugas kepolisian. "Mungkin karena pimpinan Polri lebih sibuk mengurusi KPK," katanya.
Menurut dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perlu mengambil langkah perbaikan kinerja di jajaran aparat intelijen, termasuk mengganti Kepala BIN. Pergantian Kepala BIN itu salah satu solusi dalam memperbaiki kinerja petugas intelijen.
"Peristiwa (bom di dua hotel) itu menjadi bukti bahwa Kepala BIN tidak mampu (menjalankan tugasnya)," katanya.
AS Siap Bantu Ungkap Pelaku Bom
WASHINGTON, KOMPAS.com-Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengecam serangan teror bom di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta.
Ia menyampaikan bela sungkawa pemerintah dan rakyat AS untuk para korban dan rakyat Indonesia dan siap membantu mengungkap pelaku pengeboman.
"Saya mengutuk keras serangan bom yang terjadi di Jakarta dan saya mengucapkan rasa belasungkawa saya yang paling dalam kepada semua korban dan orang-orang yang dicintainya," kata Obama seperti dikutip siaran pers Kedubes AS di Jakarta, Sabtu (18/7).
Rakyat Amerika, demikian Obama, berdiri mendampingi rakyat Indonesia di saat-saat yang sulit seperti ini, dan Pemerintah AS selalu siap membantu Pemerintah Indonesia mengatasi ini dan bangkit untuk pulih dari serangan yang keji ini sebagai sahabat dan mitra.
"Indonesia selalu bersiteguh dalam melawan ekstrimisme dan kekerasan, dan telah berhasil menekan kegiatan terorisme dalam wilayahnya," kata Obama. Namun, lanjutnya, serangan-serangan saat ini menunjukan bahwa para ekstrimis tetap berkomitmen dalam usaha mereka untuk membunuh pria, wanita, dan anak-anak yang tak bersalah dari semua agama di seluruh negara di dunia.
"Kami akan terus berkerjasama dengan Indonesia untuk melenyapkan ancaman kekerasan dari para ekstrimis ini, dan kami akan tetap setia dalam mendukung terciptanya masa depan yang aman dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia," demikian Obama.
Kapolri: Pelaku Berinisial N
JAKARTA, KOMPAS.com — Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri memastikan salah satu pelaku bom bunuh diri berinisial N.
Berdasar nama yang tercantum dalam daftar masuk (check in) Hotel JW Marriott atas kamar 1808, polisi mendapatkan inisial salah satu pelaku bom bunuh diri.
"Begini saja, saya hanya memberikan inisialnya saja. Inisial N," ujar Hendarso Danuri, dalam konferensi persnya di halaman Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7).
Menurut dia, kamar 1808 itu dijadikan posko para pelaku bom bunuh diri ini. Berdasarkan data booking tersebut, N masuk pada Rabu (15/7) dan seharusnya keluar pada Jumat (17/7) ini.
Lalu, apakah mereka terkait dengan Jamaah Islamiah? Kapolri mengatakan, hal tersebut sedang dalam proses penyelidikan. "Jangan berandai-andai. Saya tidak mau berandai-andai," tuturnya.
Bom Bunuh Diri, Pelaku Menginap di Lt 18 Hotel JW Marriott?
Lebih jauh, ia mengungkapkan, ditengarai pelaku menginap di lantai 18 Hotel JW Marriott. Ia mengkhawatirkan saat ini masih ada bom-bom lain di sekitar hotel. "Saat ini kendali penyelidikan dipegang sepenuhnya oleh pihak kepolisian. Polisi masih melakukan penyisiran," tandas dia.
Kriminolog: Pelaku Terungkap Setelah Jenis Bom Diketahui
DEPOK, KOMPAS.com — Pakar kriminologi Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala mengatakan, pelaku peledakan bom di Hotel Ritz-Carlton dan Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan, baru bisa terungkap setelah diketahui jenis bom yang digunakan.
"Dari jenis bom yang digunakan dapat diketahui pelakunya," kata Adrianus, Jumat (17/7).
Adrianus menilai dari dampak ledakan yang terjadi terlihat bahwa ledakan tersebut memang disengaja dan dikendalikan dengan menggunakan pengatur waktu (timer).
"Teknik perakitan yang khusus, cara membuat simpul-simpul, dan cara mensolder rakitan bom, dapat diketahui pelakunya," katanya.
Ia mengatakan, pelaku yang sudah dipantau oleh Polri adalah kelompok Jemaah Islamiyah (JI), kalau memang kelompok tersebut maka akan lebih mudah mengungkap motif dari ledakan tersebut.
"Kelompok tersebut sudah dalam pantauan Polri jadi lebih mudah untuk diungkap motifnya," jelasnya.
Dikatakannya, jika memang JI lama yang beraksi, pengungkapannya akan lebih mudah, dan tidak perlu ditakuti karena JI sudah tidak mempunyai kemampuan yang besar, dan hanya kecil-kecilan.
Lebih lanjut Adrianus mengatakan, kelompok JI kemungkinan saat ini terpecah menjadi dua kelompok yaitu kelompok lama dan baru. "Kalau kelompok JI yang lama mudah diungkap, tetapi kalau JI baru akan semakin sulit dipantau karena belum pernah terdeteksi oleh Polri," katanya.
Jika memang pelaku peledakan bom berasal kelompok JI yang baru, hal itu merupakan hal yang buruk karena akan lebih sulit mengungkapnya. Di samping itu diperlukan pengetahuan-pengetahuan khsusus untuk mengungkap kasus peledakan bom tersebut, katanya.
Mega: Kalau Punya Bukti Jadi Sasaran Tembak, Kenapa Tak Diungkap?
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengatakan, pihak yang menyebutkan punya bukti bahwa dirinya menjadi sasaran tembak seharusnya mengungkap hal tersebut. Pernyataan Mega ini terkait pernyataan SBY yang membeberkan bukti foto bahwa dirinya menjadi sasaran tembak pihak-pihak yang tak menyukainya.
"Ada yang mengatakan sudah tahu (menjadi sasaran), kok dibiarkan. Kalau sudah tahu ya segera diungkap," ujar Mega, menjawab pertanyaan wartawan, di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Jumat (17/7) sore.
Sebagai seorang pemimpin, menurutnya, harus menyadari ada risiko yang mungkin menimpa dirinya. "Sebagai contoh, Presiden Soekarno, mengalami 23 kali ancaman pembunuhan, mulai dari rencana sampai eksekusinya," kata Mega.
Jika bukti-bukti tersebut dibeberkan, menurut Mega, tidak tepat pada suasana prihatin dengan tragedi peledakan.
Terkait Politik, Dalang Bom Bisa Pendukung Calon
JAKARTA, KOMPAS.com — Ledakan bom di JW Marriott dan Ritz-Carlton dituding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai terkait dengan politik. Bisa jadi pernyataan tersebut benar, tetapi bukan dari lawan politiknya.
Mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Faruq Muhammad mengatakan bahwa insiden tersebut bisa saja didalangi oleh pendukung kandidat capres dan cawapes.
"Bicara kemungkinan motif politik, jangan terus membayangkan yang kalah, yakni JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. Mereka orang terhormat. Tetapi yang di belakang itu bisa jadi tidak puas," tutur Faruq dalam diskusi mingguan bertema "Bom Lagi", di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (18/7).
Ia mencontohkan, kejadian ini seperti supporter sepak bola yang kemudian mengamuk karena jagoannya kalah di lapangan. Namun, tambahnya, motif dan modus peledakan bom Jumat pagi kemarin perlu ditelusuri lebih jauh.
"Sampai di mana koneksinya antara pilpres dan teror bom, akarnya kejahatan balas dendam atau karena kekecewaan, atau bunuh diri, itu perlu diinvestigasi lebih dalam," ujarnya.
Noordin M Top Terkait Bom Mega Kuningan
"Kejadian ini merupakan bukti kalau mereka masih kuat dan ini yang harus menjadi prioritas, yakni menangkap si aktor, yaitu Noordin M Top. Selama aktornya belum ditangkap, ya segala upaya antisipasi seperti apa pun akan sia-sia," tuturnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, aparat sudah melakukan penyisiran dan penangkapan di beberapa daerah yang diduga sebagai tempat persembunyian dan aktivitas Noordin M Top dan kaki tangannya, seperti Cilacap (Jawa Tengah), Lampung, dan Malang (Jawa Timur).
Salah satu yang tertangkap adalah Syaefudin Zuhri, yang ditangkap di Cilacap, Juni 2009. Berdasar penuturan alumnus sebuah pelatihan di kamp di Afganistan pada 1990, Noordin M Top masih memiliki pengaruh dan jaringan yang kuat di Indonesia.
Tak hanya itu. Menurut teman satu angkatan Ali Imran itu, Noordin M Top masih sangat dilindungi oleh sesama anggota Jamaah Islamiyah (JI) sehingga aparat masih sulit untuk menemukan jejak secara pasti buronan nomor satu itu.
Tim JK-Win: Data Intelijen Kok Disebarluaskan?
JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Advokasi pasangan capres dan cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto mempertanyakan maksud Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang membeberkan sejumlah fakta dan bukti intelijen dalam pidato kenegaraannya kemarin, Jumat (17/7). Pidato yang disampaikan kepada masyarakat luas ini dimaksudkan sebagai respon Presiden terhadap peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton, Kuningan.
Menurut Koordinator tim advokasi JK-Wiranto, Chairuman Harajap, seharusnya fakta dan bukti intelijen itu tidak dilemparkan ke publik karena hanya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. "Kita prihatinkan ada info-info yang berupa data intelijen yang dilemparkan ke masyarakat. Kalau benar itu data intelijen, tentu digunakan untuk mengambil kebijakan," kata Chairuman dalam keterangan pers bersama Tim Kampanye Nasional pasangan capres Mega-Prabowo di Kantor DPP Golkar, Sabtu (18/7).
Lagipula, menurut Chairuman, data-data itu belum teruji kebenarannya dan seharusnya menjadi dokumen rahasia negara. Oleh karena itu, penyebaran fakta-fakta tersebut ditujukan untuk menyebar rasa takut di tengah masyarakat. "Kalaulah memang sudah ada bukti foto, video tentang seseorang yang memegang senjata api dan terlatih menembak, saya kira sudah cukup bukti utk mencari dan menangkapnya," lanjut Chairuman.
Sementara itu, anggota tim advokasi pasangan Mega-Prabowo, Elza Syarief mengatakan Presiden SBY terlalu cepat berkesimpulan. Pernyataannya bersifat prematur. "Polisi dan intelijen belum secara tuntas mencari tahu tapi Presiden sudah mendahului dengan kesimpulan. Buktinya apa?" tanya Elza.
Selang beberapa jam saja, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri maupun Menko Polhukam Widodo AS segera merilis informasi bahwa ledakan bom Kuningan terkait dengan teroris yang sedang buron Noerdin M Top. "Namun, itu pun masih perkiraan, belum masuk penyelidikan," tandas Elza.
Pengebom Kuningan Berusia 25-28 Tahun
"Apakah ada yang bisa saya bantu," kata Dikdik, yang kemudian dijawab oleh pria berkulit sawo matang tersebut, "Saya mau ketemu bos saya".
Kemudian, Dikdik melanjutkan pertanyaannya, "Siapa bosnya? dan di mana?" kemudian dijawab, "Ini saya mau mengantar pesanan bos saya."
Selanjutnya, karena tamu tersebut mau mengantar pesanan, kata Dikdik, yang tampak masih lemah terbaring di ruang Krisan kamar 351 lantai III RS Jakarta, tidak berani bertanya lebih lanjut.
"Beberapa menit kemudian, ada suara ledakan, dan saya telah tertimpa plafon serta serpihan debu," kata dia.
Dalam kondisi belum menyadari sepenuhnya bila itu bom, Dikdik berlari ke arah belakang dan sempat membunyikan alarm tanda bahaya.
"Menurut informasi, kini Dadang menderita luka cukup parah," kata dia.
Dia juga yakin kalau bom tersebut dirakit di dalam kamar karena setiap tamu yang masuk akan diperiksa secara seksama oleh satuan keamanan yang dia pimpin.
Dikdik juga memperkirakan, tamu yang menginap di kamar 1508 tersebut membawa bom yang siap diledakkan dari kamar turun dengan lift menuju ke arah lounge.
"Saya baru sadar kalau itu diduga tersangka bom bunuh diri setelah melihat kamera CCTV," kata Dikdik sambil mengatakan ciri-ciri fisik yang diduga pelaku adalah berkulit sawo matang, tinggi sekitar 172 sentimeter, dan umur 25-28 tahun.
Selain Dikdik, Andri yang juga bekerja di Marriott sejak tiga tahun lalu pun mengaku melihat secara langsung orang yang diduga sebagai tersangka.
Sayangnya, Andri yang dirawat di ruang Yasmin tidak bisa ditanya lebih banyak karena kondisi pendengarannya belum normal sehingga tim dokter melarang wartawan untuk melakukan wawancara.
SBY Diminta Konfirmasi soal Indikasi Bom dan Drakula
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Kampanye Nasional pasangan capres dan cawapres Megawati dan Prabowo serta Jusuf Kalla dan Wiranto meminta konfirmasi dari Presiden SBY seputar isi pidato kenegaraannya kemarin, Jumat (17/7), saat merespons peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.
Hal-hal yang akan dikonfirmasi antara lain bagian-bagian yang menyebutkan bahwa indikasi penyebab peristiwa terkait dengan ketidakpuasan terhadap hasil pilpres dan apa pun latar belakang politik pelakunya harus segera ditindak, serta adanya "drakula penyebar maut".
Menurut kedua tim, banyak poin dalam pidato tersebut bukannya menenangkan warga dalam kondisi kritis, melainkan justru menimbulkan kebingungan dan keresahan di tengah-tengah masyarakat.
"Bahasa-bahasa itu menjadikan masyarakat bingung," ujar Koordinator Tim Advokasi Mega-Pro, Gayus Lumbuun, di sela-sela keterangan pers di Kantor DPP Golkar, Sabtu (18/7).
Selain meresahkan masyarakat, Gayus mengatakan kedua tim pasangan calon juga merasa tuduhan dilemparkan kepada mereka karena sebagai rival politik dalam pilpres, kemungkinan terdekat ada pada mereka. "Ini juga menjadi suatu yang sulit diterima oleh pasangan lain. Arah dan tujuan dari kalimat ini dengan sebutan "drakula penyebar maut" mengarah pada pihak-pihak yang juga menunggu hasil pilpres nanti," ujar Gayus.
Oleh karena itu, Gayus mengatakan, kedua pihak meminta SBY memberi konfirmasi seputar poin-poin membingungkan tersebut dalam konteks yang sama sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan melalui pidato kenegaraan. Tujuannya, menurut Gayus, supaya semua kecurigaan yang ditebarkan SBY dapat terselesaikan.